Prosesi tradisi Kasada Bromo merupakan salah satu upacara adat paling megah, sakral, dan sarat akan nilai spiritualitas yang diselenggarakan oleh suku Tengger di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Setiap tahunnya, pada malam ke-14 bulan Kasada berdasarkan penanggalan tradisional Tengger, ribuan masyarakat Hindu Tengger berkumpul di lautan pasir (Lautan Pasir Pasiten) untuk menghaturkan rasa syukur dan memohon keselamatan kepada Sang Hyang Widhi serta para leluhur. Upacara ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan manifestasi janji suci yang telah diwariskan selama berabad-abad dan mengakar kuat dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Bromo.
Asal Usul dan Legenda Roro Anteng serta Joko Seger
Untuk memahami kedalaman makna di balik prosesi tradisi Kasada Bromo, kita harus menengok kembali legenda kolosal yang menjadi fondasi keberadaan suku Tengger. Nama “Tengger” sendiri dipercayai berasal dari gabungan nama pasangan suami istri legendaris: Roro Anteng (putri dari kerajaan Majapahit) dan Joko Seger (putra seorang brahmana).
Alkisah, pasangan ini hidup bahagia namun tak kunjung dikaruniai keturunan. Mereka kemudian melakukan pertapaan di puncak Gunung Bromo untuk memohon petunjuk dan kelapangan hati dari Sang Hyang Widhi Wasa. Doa mereka dikabulkan dengan syarat yang sangat berat: mereka akan dikaruniai 25 orang anak, namun anak bungsu mereka harus dikorbankan ke dalam kawah Gunung Bromo sebagai persembahan rasa syukur.
Setelah memiliki 25 anak, cinta kasih orang tua sempat membuat Roro Anteng dan Joko Seger enggan menepati janji tersebut. Akibatnya, Gunung Bromo menunjukkan tanda-tanda kemurkaan melalui letusan dan asap tebal. Anak bungsu mereka, Raden Kusuma, dengan keikhlasan jiwa menyerahkan dirinya melompat ke dalam kawah demi menyelamatkan keluarganya dan seluruh warga suku Tengger dari bencana. Sebelum lenyap ditelan kawah, Raden Kusuma berpesan agar setiap tahun pada bulan Kasada, warga Tengger memberikan persembahan (ongkek) berupa hasil bumi, ternak, dan makanan ke kawah Gunung Bromo. Dari peristiwa inilah tradisi Yadnya Kasada dilahirkan dan terus dijaga keasliannya hingga saat ini.
Rangkaian Ritus dan Tahapan Pelaksanaan Yadnya Kasada
Ritual Yadnya Kasada bukanlah acara satu malam semata, melainkan rangkaian prosesi adat yang terstruktur dengan tingkat kekhidmatan tinggi. Setiap tahapan diresapi oleh doa-doa serta mantra khusus yang dilantunkan oleh para Dukun Adat Tengger.
1. Pengambilan Air Suci (Mendak Tirta)
Beberapa hari sebelum puncak penganugerahan sajen, para sesepuh dan perwakilan warga dari empat kabupaten (Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang) melakukan ritual Mendak Tirta. Pengambilan air suci ini dilakukan di sumber-sumber air sakral yang tersebar di kawasan Tengger, seperti Gua Widodaren atau Air Terjun Madakaripura. Air suci ini nantinya digunakan untuk menyucikan seluruh sarana ritual dan para peserta upacara.
2. Pembuatan dan Penyusunan Ongkek
Ongkek adalah struktur bambu yang dirangkai sedemikian rupa dan dihiasi oleh berbagai hasil bumi—seperti kentang, kubis, jagung, wortel, serta hasil ternak dan jajanan tradisional. Setiap keluarga atau kelompok desa menyiapkan ongkek ini dengan penuh ketelitian. Ongkek melambangkan simbol rasa syukur atas kesuburan tanah Bromo yang senantiasa memberi kehidupan bagi warga lokal.
3. Pujawali dan Musyawarah Adat di Pura Luhur Poten
Pada malam puncak, pusat kegiatan bergeser ke Pura Luhur Poten yang terletak tepat di kaki Gunung Bromo di tengah lautan pasir. Di puri yang berarsitektur khas Jawa-Bali ini, seluruh Dukun Adat Tengger berkumpul untuk melangsungkan upacara Pujawali. Rangkaian kegiatan di pura meliputi:
-
Pemberkahan Sarana Upatcara: Penyucian seluruh ongkek dan sesaji menggunakan air suci Mendak Tirta.
-
Pemilihan / Pengangkatan Dukun Adat Baru (Mulun): Calon dukun adat diuji kemampuannya dalam menghafal dan melantunkan mantra-mantra kuno secara lisan tanpa terputus di hadapan para senior dan warga.
-
Doa Bersama (Sembahyang Kasada): Melantunkan mantra keselamatan untuk seluruh alam semesta, memohon agar erupsi Gunung Bromo tidak membawa malapetaka, melainkan berkah kesuburan.
Rangkaian ritus yang kaya akan makna filosofis ini menegaskan bagaimana masyarakat Nusantara menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Jika Anda tertarik mendalami fenomena kebudayaan Nusantara maupun fenomena etnografi unik dari berbagai penjuru bumi lainnya, Anda dapat menyimak artikel tradisi budaya dunia panduan lengkap tradisi budaya dunia ragam upacara adat dan filosofi yang mengulas tuntas ragam ekspresi kebudayaan manusia.
4. Prosesi Pembawaan Sajen Menuju Puncak Kawah
Tepat menjelang fajar atau sekitar pukul 03.00 hingga 05.00 WIB, ribuan warga berbondong-bondong membawa ongkek dan obor beriringan melintasi lautan pasir yang dingin menuju puncak Gunung Bromo. Pemandangan obor yang mengular di tengah kegelapan malam menciptakan suasana mistis dan magis yang sangat berkesan bagi siapa saja yang menyaksikannya.
5. Melarung Sajen (Larung Ongkek) ke Kawah Bromo
Puncak dari prosesi tradisi Kasada Bromo adalah momen ketika warga melemparkan atau melarung hasil bumi serta ternak dari bibir kawah langsung ke dalam kawah aktif Gunung Bromo. Fenomena unik terjadi di sepanjang tebing kawah: sejumlah warga lokal berdiri di dinding kawah yang terjal dengan membawa jaring atau kain untuk menangkap sesaji yang dilempar dari atas. Dalam pandangan suku Tengger, sajen yang berhasil ditangkap tidak mengurangi nilai kesakralan, melainkan dianggap membawa berkah bagi mereka yang mendapatkannya.
Nilai-Nilai Filosofis dan Kearifan Lokal Suku Tengger
Di balik nuansa mistis dan riuk-pikuk pelaksanaan upacara, terdapat falsafah hidup mendalam yang dipegang teguh oleh masyarakat Hindu Tengger melalui tradisi ini:
Dampak Pariwisata dan Pelestarian Kebudayaan
Seiring berjalannya waktu, prosesi tradisi Kasada Bromo telah berkembang menjadi magnet pariwisata budaya (cultural tourism) bertaraf internasional. Ribuan wisatawan lokal dan mancanegara memadati kawasan Bromo setiap tahunnya untuk mengabadikan momen langka ini.
Namun, tingginya antusiasme wisatawan melahirkan tantangan tersendiri terkait pelestarian kesakralan upacara. Pemerintah daerah bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan para Dukun Adat Tengger secara rutin menetapkan batasan-batasan ketat, seperti penutupan kawasan Bromo dari kendaraan bermotor (Peralihan ke moda ramah lingkungan) serta zonasi khusus agar wisatawan tidak mengganggu kekhidmatan warga yang sedang bersembahyang.
Kesimpulan
Prosesi tradisi Kasada Bromo adalah bukti nyata ketangguhan sebuah komunitas adat dalam menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus modernisasi. Lebih dari sekadar ritual persembahan sajen ke kawah gunung berapi, Yadnya Kasada adalah refleksi kerendahan hati manusia di hadapan kekuasaan Pencipta dan wujud penghormatan abadi terhadap bumi tempat mereka berpijak. Melalui konsistensi penyelenggaraannya, masyarakat Tengger tidak hanya merawat identitas budaya mereka, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi dunia tentang harmoni antara tradisi, kearifan lokal, dan alam raya.
